January 30, 2023

Axle Shaft merupakan komponen sistem pemindah tenaga berbentuk poros aktivis roda yang dipasang pada axle shaft sehingga menumpu beban dari roda. Axle shaft berfungsi selaku penumpu beban atau dudukan roda dan penerus putaran differential ke roda.

Axle shaft pada kendaraan dibedakan menjadi dua yakni front axle shaft (poros penggagas roda depan) dan rear axle shaft (poros pencetus roda belakang). Axle Shaft pada kendaraan Front Engine Front Drive (FF) sebagai pelopor roda depan (front wheel drive), sedangkan Axle Shaft pada kendaraan tipe Front Engine Rear Drive (FR) selaku penggagas roda belakang (rear wheel drive). Sedangkan pada kendaraan Four Wheel Drive (4WD) , front axle shaft maupun rear axle shaft sama-sama sebagai pelopor (driving axle shaft).

Pengertian Axle Shaft (Poros Penggerak Roda

Klasifikasi Axle shaft dibagi 2 type, yaitu :
1. Axle shaft rigid
2. Axle shaft independent

Rigid Axle Shaft

Type rigid sering dipakai pada kendaraan berskala menengah keatas dengan muatan yang besar, juga pada kendaraan yang dirancang untuk medan-medan berat sebab bisa menahan beban yang berat.
Fungsi axle shaft pada type rigid :

  • Penerus putaran differential ke roda.
  • Pendukung beban roda.

Axle Shaft dibedakan berdasarkan letak dudukannya menjadi 2 macam, yakni :
1. Front axle
Berfungsi selaku penerus putaran ke roda juga sebagai kawasan knuckle semoga roda bisa dibelok-belokan.

Komponen-komponen Front Axle :
1. Front axle housing
2. Front axle inner shaft
3. Front axle outer shaft
4. Tappered roller bearing

2. Rear axle
Berfungsi sebagai penerus putaran dari side gear ke roda.

Komponen-komponen Rear Axle :
1. Axle shaft
2. Gasket
3. Axle shim
4. Axle retainer plate
5. Axle flange

Klasifikasi Axle Shaft menurut penopang ada 3 jenis, yaitu :
1. Half floating type (setengah bebas memikul).
2. ¾ floating type (3/4 bebas memikul).
3. Full floating type (bebas memikul).

a. Half floating type (setengah bebas memikul)

Pada type ini bantalan dipasang antara axle housing dengan axle shaft dan roda pribadi dipasang pada ujung poros.
Jenis ini biasa digunakan pada kendaraan jenis sedan, station wagon dan jeep.
Keuntungan :

  • Konstruksi sederhana
  • Biayanya murah

Kerugian :

  • Axle Shaft menjadi bengkok balasan berat kendaraan pribadi dipikul oleh poros.
  • Jika patah roda tidak ada yang menahan.

b. ¾ Floating type (¾ bebas memikul).

Bantalan dipasang antara axle housing dengan wheel hub dan axle shaft, secara tidak langsung axle shaft ikut memikul beban kendaraan.
Jenis ini biasa dipakai pada truck ringan.
Keuntungan :

  • Berat kendaraan tidak semuanya diteruskan ke axle shaft, sehingga axle shaft tidak bengkok.
  • Bila terjadi axle shaft patah masih ditahan oleh alas.

Kerugian :

  • Akibat gaya ke samping tetap menjadikan kebengkokan.

c. Full floating type (bebas memikul)

Pada type ini wheel hub terpasang kuat pada axle housing lewat dua buah alas dan axle shaft cuma berfungsi untuk menggerakkan roda.
Type ini banyak dipakai pada kendaraan berat.
Keuntungan :

  • Berat kendaraan semuanya dipikul oleh axle housing, sehingga axle shaft tidak menjadi bengkok.
  • Gaya ke samping juga tidak diteruskan ke axle shaft.
  • Faktor keamanan lebih baik, dan sanggup memikul beban berat.

Kerugian :

  • Biayanya mahal

Cara kerja axle shaft type rigid

Axle shaft rigid disamping sebagai penerus putaran ke roda, seolah-olah merupakan lengan panjang mirip poros mati, sehingga pada dikala kendaraan berlangsung kedudukan body kendaraan seolah-olah mengikuti gerakan posisi axle.
Keuntungan axle shaft type rigid :

  • Konstruksi lebih kuat.
  • Cocok untuk kendaraan skala medium ke atas.
  • Sanggup menahan beban berat.
  • Momen yang dihasilkan besar.

Kerugian :

  • Suspensi kendaraan keras
  • Pada saat kendaraan berjalan di medan yang berat body kendaraan tidak stabil.
  • Sudut beloknya kecil.

Independent Alxe Shaft

Type independent sering digunakan pada kendaran kecil dan umumnya jenis-jenis sedan, sebab type ini disamping konstruksinya ringan juga bisa menciptakan sudut belok lebih besar.
Fungsi axle shaft pada tipe independent

  • Sebagai penerus putaran ke roda
  • Sebagai pendukung beban roda
  • Sebagai penstabil body kendaraan, alasannya adalah dilengkapi CV joint.

Tipe-tipe axle shaft independent (drive shaft)

A. Cara kerja axle shaft independent

Dengan dilengkapi CV joint maka pada ketika kendaraan melaju dijalan yang bergelombang maka posisi body kendaraan seakan akan tidak terpengaruh oleh keadaan jalan, karena dengan dilengkapi CV Joint pada setiap gerakan disamping bisa bergerak putar juga bisa bergerak memanjang, memendek dan membuat sudut.

B. Constant Velocity Joint

Fungsi CV Joint :
Sebagai penstabil posisi kendaraan terutama di jalan-jalan yang bergelombang.

C. Komponen – komponen CV Joint

Komponen-komponen :
a. Outer race
b. Ball cage
c. Inner race
d. Steel ball

Cara kerja CV Joint

1. Pada saat jalan lurus dan rata tenaga putar dari differential diteruskan oleh axle shaft melalui inner race housing – steel ball – intermediate axle shaft – steel ball – outer race housing – roda. Pada ketika itu steel ball diam sehingga CV joint tidak membentuk sudut.

2. Sedangkan pada dikala belok atau jalan tidak rata tenaga putar dari differential diteruskan oleh inner race housing – steel ball – intermediate axle shaft – steel ball – outer race housing – roda, dimana pada saat itu disamping sebagai penerus putaran dari intermediate shaft steel ball juga bergerak pada inner race, sehingga CV joint mampu menciptakan sudut yang memungkinkan membelok dengan membentuk sudut.

Axle Shaft Independent mempunyai laba dan kelemahan.
Keuntungan :

  • Konstruksinya ringan.
  • Mampu menciptakan sudut belok lebih besar.
  • Perawatan mudah.
  • Body kendaraan lebih stabil jika dibandingkan axle rigid.

Kerugian :

  • Tidak mampu menahan beban besar.
  • Pada kepingan inner housing maupun outer housing mudah aus.
  • Harganya lebih mahal.
  • Memerlukan perawatan berkala .

Pemeriksaan Dan Perbaikan Komponen Poros roda belakang (Rear Axle shaft)

Periksa dengan teliti dan teliti kemungkinan terjadi kerusakan pada komponen-komponen berikut ini :
Pemeriksaan Bantalan Atau Bearing

  • Memeriksa alas atau bearing terhadap keausan atau kerusakan, jikalau alas aus atau rusak gantilah dengan yang baru.

Pemeriksaan Oli Seal

  • Kerusakan oli seal bisa menimbulkan kebocoran oli differential/gardan. Hal ini bisa dilihat sekitar backing plat terdapat tanda-tanda oli keluar. Keausan oli seal bisa dilihat pada serpihan yang bekerjasama dengan poros axle shaft, kalau masih runcing bermakna masih layak digunakan, bila telah rata memiliki arti aus dan tidak layak dipakai, apabila oli seal telah aus, maka gantilah dengan yang gres.

Pemeriksaan Poros Roda Belakang (Rear Axle Shaft)

  • Periksa alur poros roda belakang dari  keausan, keretakan atau puntiran.
  • memeriksa poros roda belakang pada serpihan dudukan penahan dalam dan ganjal dari keausan.
  • mengusut poros roda belakang dari kebengkokkan dan keolengan pada flensnya dengan menggunakan alat ukur dial test indikator (DTI).
  • Kebengkokkan poros rear axle shaft maksimum 1, 5 mm dan Keolengan flens rear axle shaft maksimum 0, 1 mm.

Pada poros roda belakang dan komponennya bila terdapat kerusakan tidak mampu diperbaiki oleh karena itu harus di ganti kecuali pada kebengkokkan ini masih bisa diperbaiki.

Pemeriksaan Dan Perbaikan Komponen Poros Roda Constant Velocity Joint (Axle Shaft C.V Joint)

investigasi sebagai berikut ini :

  • Memeriksa poros penggerak roda dari terjadinya lengkungan.
  • Memeriksa out board, dihentikan ada kekocakan.
  • Memeriksa in board joint, mesti dapat meluncur dengan lembut kearah aksial.
  • Memeriksa keleluasaan in board joint kearah radial tidak terlalu besar.
  • Periksa gigi alur dari kemungkinan kerusakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *