December 7, 2022

Sistem pengapian merupakan sistem yang paling penting pada sebuah mesin kendaraan yang berfungsi untuk menciptakan percikkan bunga api pada busi dalam ruang pembakaran. Pada mesin bensin percikkan bunga api pada busi ini mengkremasi adonan udara materi bakar saat piston berada di tamat langkah kompresi, sedangkan pada mesin diesel udara dikompresikan dengan tekanan yang tinggi sehingga tekanan menjadi panas, kemudian bahan bakar disemprotkan ke dalam ruang bakar, maka bahan bakar akan terbakar yang menciptakan tenaga (power) dan diteruskan ke poros engkol (crankshaft) melalui batang piston (connecting rod).

Umumnya ada empat Sistem pengapian pada kendaraan. Adapun macam-macam tata cara pengapian :

  1. Sistem Pengapian Konvensional
  2. Sistem pengapian CDI
  3. Sistem Pengapian Transistor
  4. Sistem Pengapian DLI

Di artikel ini saya akan membahas wacana sistem pengapian transistor pada kendaraan.

Sistem Pengapian Transistor (Fully Transistorized Ignition) merupakan sistem pengapian yang mempergunakan bagian transistor selaku switch elektronik yang berfungsi menciptakan induksi elektromagnetik dengan pemutus arus primer.

Sistem pengapian ini merupakan pertumbuhan dari jenis sistem pengapian konvensional dengan energi mekanik.
Sistem Pengapian Transistor dibagi menjadi dua jenis, yaitu :

1. Sistem Pengapian Semi Transistor

pada sistem pengapian ini masih memakai kontak platina, yang berfungsi untuk menetapkan arus menuju kaki basis pada transistor dan bukan sebagai pemutus arus primer coil.

2. Sistem Pengapian Fully Transistor

pada sistem pengapian ini sudah tidak lagi memakai platina, sistem pengapian fully transistor sudah menggunakan pengapian elektrik. pengapian elektrik ini memakai alat berupa igniter untuk menetapkan arus pada kaki basis dan akan mengirimkan sinyal sesuai timing pengapian untuk menetapkan arus listrik pada kaki basis transistor.

Komponen-bagian Pengapian Transistor

1. Baterai (Battery)

Berfungsi sebagai sumber arus listrik dengan tegangan sebesar 12 volt.

2. Kunci Kontak (Ignition Switch)

Berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan arus listrik dari baterai ke ignition coil.

3. Koil (Ignition Coil)

Berfungsi untuk memaksimalkan tegangan dari baterai sebesar 12 volt menjadi tegangan tinggi sebesar 10.000-20.000 volt.

4. Transistor Unit

Komponen ini sebagai pengganti dari platina, yang berfungsi untuk menghubungkan dan menetapkan arus primer.

Transistor merupakan bagian elektronik yang terbuat dari materi semi konduktor, transistor mempunyai tiga terminal, yaitu pengumpul, emitor dan basis. transistor berfungsi sebagai isolator dan konduktor.

Cara kerja Transistor

Transistor berfungsi sebagai konduktor pada saat arus listrik mengalir pada basis, maka kolektor dan emitor tersambung.

Transistor berfungsi sebagai isolator pada saat arus listrik berhenti mengalir pada basis, maka pengumpul dan emitor terputus.

5. Pulse Ignition (Fully Transistor)

merupakan bagian yang berfungsi untuk mendeteksi timing pengapian berupa sinyal PWM yang digunakan untuk memutuskan arus listrik pada transistor.

Pulse igniter menggunakan prinsip kerja induksi elektromagnet. bagian ini yang dibuat dari bahan magnet permanen, posisi bagian ini berada di akrab rotor berverigi. Rotor ini tersambung dengan putaran mesin, sehingga dikala mesin berputar, gigi pada rotor akan memangkas GGM pada magnet yang menghasilkan sinyal PWM. Sinyal ini memiliki frekuensi yang tepat dengan putaran mesin dan gigi yang berada pada rotor akan memberikan timing pengapian masing-masing silinder.

6. Distributor

Berfungsi untuk mendistribusikan arus tegangan tinggi yang dihasilkan oleh kumparan sekunder pada koil ke busi pada masing-masing silinder melalui kabel tegangan tinggi sesuai dengan urutan pengapian FO (Firing Order).

7. Kabel Tegangan Tinggi

Kabel tegangan tinggi dibuat khudu yang berfungsi untuk mengalirkan arus listrik tegangan tinggi dari koil ke biro dan dari distributor ke busi pada setiap masing-masing silinder.

8. Busi

Berfungsi untuk memercikkan loncatan bunga api di dalam ruang bakar paada akhir langkah kompresi sehingga terjadi pembakaran adonan materi bakar dan udara bunga api yang dihasilkan oleh busi kemudian di pergunakan untuk memulai pembakaran campuran bahan bakar dengan udara yang sudah di kompresikan di dalam silinder.

Kelebihan tata cara pengapian transistor dibandingkan tata cara pengapian konvensional :

1. Tidak Memerlukan Penyetelan

Pada tata cara pengapian konvensional, terdapat bagian platina yang berfungsi selaku pemutus arus listrik primer coil yang bergerak membuka dan menutup kontak saat kaki platina digerakan oleh Cam. Untuk memilih besar nya arus listrik pada sistem pengapian diharapkan penyetelan celah platina pada kontak platina.

Namun pada sistem pengapian transistor tidak memakai kontak point , melainkan saklar elektrobik berbentuktransistor dan tidak perlu membutuhkan penyetelan pada metode pengapian transistor.

2. Tidak Ada Gesekan

Pada pengapian konvensional, Cam yang menggerakan kaki platina akan menyebabkan keausan pada kedua unsur akibat tabrakan dalam rentang waktu tertentu, hal ini akan menjadikan terganggunya metode pengapian.

Sedangkan pada sistem pengapian transistor melakukan pekerjaan secara elektronik dalam memutus arus listrik tanpa adanya tabrakan sehingga tidak ada keausan pada komponen ini.

Cara Kerja Sistem pengapian Transistor
Prinsip kerjanya nyaris sama dengan metode pengapian konvensional, perbedaannya yaitu cara pemutusan arus primernya. Cara kerja Sistem pengapian transistor dibedakan menjadi dua, yakni pengapian semi transistor dan pengapian fully transistor.

1. Cara kerja distem pengapian semi transistor

Saat kunci kontak ON, arus dari baterai mengalir ke dalam tata cara pengapian yaitu ignition coil dan keluar menuju transistor unit yang kemudian terhubung dengan kaki pengumpul pada transistor dan emitor terhubung dengan masa, sementara kaki basis terhubung dalam rangkaian platina.

Saat mesin belum menyala, cam yang berada di dalam biro dalam posisi diam dan platina tertutup dalam kondisi ini kaki basis akan dialiri arus listrik dari platina, sehingga pengumpul dan emitor terhubung.

Arus dari coil primer yang terhubung dengan pengumpul, akan diteruskan ke masa melalui kaki emitor yang menghasilkan akan muncul medan magnet pada coil primer.

Saat mesin berputar, cam di dalam biro dalam posisi berputar platina terbuka menyebabkan arus listrik yang menuju kaki basis juga ikut terputus, sehingga kaki pengumpul dan emitor juga ikut terputus.

korelasi kolektor dan emitor yang terputus, mengakibatkan pergerakan medan magnet pada coil primer yang mengenai coil sekunder, sehingga terjadi tegangan tinggi pada coil sekunder, kemudian tegangan tinggi disalurkan oleh agen ke masing-masing busi sesuai dengan urutan pengapiannya FO (Firing Order).

2. Cara kerja metode pengapian full transistor

Saat kunci kontak ON, arus listrik dari baterai mengalir ke dalam sistem pengapian yaitu ignition coil. Arus listrik dari output coil primer akan masuk ke unsur transistor, sementara output coil sekunder ke masing-masing busi. Dan arus dari baterai juga menfalur ke transistor unit selaku tumpuan tegangan pada transistor unit.

Saat mesin kondisi mati, pulse igniter dalam kondisi diam sehingga tidak ada sinyal dari pulse igniter ke transistor unit. Hal ini menyebabkan rangkaian arus listrik primer coil terhubung sehingga timbulnya medan magnet pada coil primer.

Saat mesin kondisi hidup, pulse igniter akan mengantarkan sinyal PWM dengan frekuensi yang tepat dengan putaran mesin. Kemudian sinyal akan di proses oleh controler  yang terletak satu unit dengan transistor unit.

Saat mesin mulai berputar, pulse igniter akan mengirimkan sinyal PWM dengan frekuensi tergantung kecepatan mesin. Sinyal tersebut akan dimasak apalagi dahulu oleh controler yang terletak satu unit dengan transistor unit. Kemudian controler akan memutuskan arus pada kaki basis transistor ketika menerima sinyal PWM dari pulse igniter. Pada saat basis terputus, maka secara otomatis arus listrik dari kolektor juga terputus sehingga terjadi pergerakan medan magnet pada coil primer menuju coil sekunder. Hal ini menyebabkan tegangan tinggi pada coil sekunder. Kemudian tegangan tinggi sekunder disalurkan oleh biro ke masing-masing busi sesuai urutan pengapiannya FO (Firing Order).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *